TERMODINAMIKA's WORLD

Blog ini dibangun untuk memenuhi salah satu proyek matakuliah Termodinamika dengan Dosen Pengampu Bapak Apit Fathurohman, S. Pd., M. Si (WAJIB)

Kamis, 02 April 2015

Mengapa Pesawat Terbang Tinggi Lebih Nyaman ?

Mengapa Pesawat Terbang Tinggi Lebih Nyaman ? – PESAWAT jet modern yang ada saat ini adalah suatu pesawat udara yang dirancang agar dimungkinkan untuk terbang tinggi, misalnya pada ketinggian 35.000 kaki atau kurang lebih 11.000 meter di atas permukaan laut.
Dengan kemampuan terbang di ketinggian 35.000 kaki, penumpang akan lebih aman dan nyaman, dan bahan bakar yang dibutuhkan pesawat lebih irit, sehingga dimungkinkan terbang lebih jauh dengan membawa beban lebih banyak (lebih berat).
Terbang pada ketinggian tertentu sesuai ketinggian maksimum jenis pesawatnya, akan lebih nyaman karena lapisan udara yang lebih tipis, sehingga pesawat dapat melaju tanpa menemui lapisan udara tebal yang berdampak terjadinya goncangan seperti yang sering dialami pada penerbangan pada ketinggian di bawah rata-ratanya.

Para disainer (manufactur) pesawat sangat concern terhadap masalah performance suatu pesawat yang dirancang untuk diproduksi. Salah satu performance pesawat yang diproduksi, yakni dapat diterbangkan pada ketinggian tertentu.
“Pesawat yang dirancang agar memiliki kemampuan untuk terbang tinggi akan mendapatkan predikat dengan performance optimum,” kata President Asosiasi Pilot Garuda Indonesia, Capt. Arie Sapari bersama Capt. Noor Wahjudie didampingi Kepala Komunikasi Perusahaan PT Garuda Indonesia, Pujobroto kepada Pelita tentang faktor keselamatan dan kenyamanan dalam penerbangan udara komersial.
Sistem kabin pesawat udara komersial pun dirancang dengan teknologi untuk memiliki tekanan yang lebih besar dari sekelilingnya. Hal itu dimaksudkan agar penumpang merasa nyaman dan dapat bernafas secara normal di dalam pesawat pada ketinggian seperti 35.000 kaki yang memiliki lapisan udara lebih tipis dengan tekanan atmospheric yang lebih rendah dari permukaan laut.
Tujuan membuat udara bertekanan tersebut di dalam kabin agar menjadikan kondisi udara di dalam ruang kabin seolah-olah berada pada suatu ketinggian tertentu, dimana manusia biasa dapat bernafas secara normal.
Umumnya tekanan udara di dalam kabin pesawat dan di luar pesawat berkisar 6-8 Psi, dimana perbedaan tekanan udara tersebut setara dengan ketinggian 6.000 kaki sampai 8.000 kaki di atas permukaan laut. “Pada ketinggian ini, seolah-olah berada di daerah pegunungan (seperti di puncak Tangkuban Perahu),” katanya.
Perlu diingat, pada ketinggian tersebut selain tekanan udaranya rendah (tipis, sebutan awamnya), temperaturnya juga sangat rendah (kurang lebih minus 45 derajat Celsius – 45 derajat di bawah nol), maka hal ini tidak dapat membuat manusia bertahan hidup tanpa ada suatu alat bantu.
Agar pesawat dapat terbang pada ketinggian 35.000 kaki, selain tekanan udaranya dapat diatur, temperaturnya juga harus disesuaikan agar penumpang dapat menikmati penerbangan secara nyaman dan aman. Sistem yang mengatur hal ini semua adalah system air-conditioning (pengatur temperature) dan sistem pengatur tekanan udara kabin.
Jadi, di sini sistem air-conditioning pesawat, selain dapat mengatur panas dan dinginnya suhu kabin, juga berfungsi memompakan udara ke dalam kabin, sehingga temperatur dan tekanan di dalam pesawat dapat disesuaikan sesuai yang diinginkan. Sistem pengaturan ini dikendalikan oleh pilot di ruang kemudi dan dapat bekerja secara otomatis atau manual.
Quote:Kabin ini dirancang untuk keamanan dan kenyaman di ketinggian jelajah yang bias mencapai 40,000 kaki. Berikut adalah cara system bekerja :
1. Udara luar memasuki tahap kompresor dari mesin jet pesawat, di mana udara menjadi sangat panas karena bertekanan.
2. Kemudian udara yang panas masuk pada tahapan ke unit AC, di mana udara tersebut selanjutnya di dinginkan.
Selanjutnya udara luar dicampur, di mana itu dicampur sebagian dengan udara kabin diresirkulasi yang telah dibersihkan dengan filter berefisiensi tinggi.
3. Udara yang di campur tadi kemudian di edarkan ke dalam kabin.
4. Sebagian udara luar masuk ke dalam pesawat, jumlah udara yang masuk dan yang dibuang sama. Udara di seluruh kabin diganti setiap 2 sampai 3 menit.
Syarat teknis
Selanjutnya, untuk mengatasi terjadinya penurunan tekanan udara di kabin pesawat secara tiba-tiba ketika pesawat berada pada ketinggian seperti 35.000 kaki, maka rancangan pesawat harus memenuhi persyaratan teknis.
Misalnya, jenis pesawat buatan Amerika harus memenuhi FAR (Federation Aviation Regulation) 25, atau di Indonesia dikenal dengan nama CASR (Civil Aviation Safety Regulation). Salah satu dari ratusan persyaratan yang ada, yakni pesawat harus dilengkapi dengan sistem oksigen.
Sistem oksigen ini diperlukan ketika pesawat mengalami penurunan tekanan udara di dalam kabin, dimana sistem oksigen harus mampu memberikan tambahan oksigen pada ketinggian pesawat (maksimum ketinggian jelajahnya) sampai pesawat mencapai ketinggian yang aman (ketinggian yang tidak memerlukan bantuan oksigen untuk pernafasan). Dalam kondisi seperti ini, pesawat akan menurunkan ketinggiannya secara maksimum, agar mencapai ketinggian yang aman.
Pada pesawat jet untuk penumpang secara umum terdapat dua sistem oksigen. Pertama, sistem oksigen dengan menggunakan tabung bertekanan sebagai penyimpan oksigen, sebagai layaknya seperti tabung oksigen yang biasa digunakan di rumah sakit. Bedanya, pada tabung oksigen pesawat mempunyai persyaratan yang lebih ketat dibanding tabung oksigen yang digunakan di darat.
Maka dari tabung-tabung itu, oksigen didistribusikan ke masing-masing penumpang melalui sistem pemipaan ke setiap kursi penumpang, dan pada setiap kursi terdapat satu masker oksigen. Sementara jumlah kebutuhan oksigen dalam pesawat telah diperhitungkan untuk kondisi yang maksimum pada ketinggian jelajah yang maksimum pula.
Misalnya pada ketinggian jelajah maksimum pesawat B-747 sekitar 44.000 kaki, A-330 sekitar 42.000 kaki, DC-10 sekitar 42.000 kaki, B-737 sekitar 38.000 kaki. Jadi, untuk memenuhi kebutuhan oksigen selama terjadi penurunan tekanan udara di kabin, maka dalam proses sertifikasi pesawat harus diperhitungkan agar mampu meberikan tambahan oksigen ke setiap penumpang sampai mencapai ketinggian yang aman.
Kedua, melalui sistem oksigen generator yang sistem kerjanya berbeda dengan sistem tabung. Pada sistem generator, oksigen disuplai dari generator melalui proses kimia, yakni di dalam generator telah terdapat bahan kimia.
Bahan kimia tersebut akan bereaksi dengan air (H2O) di udara, dan menghasilkan oksigen melalui reaksi exoterm. Pada waktu oksigen generator diaktifkan dengan menarik ‘pin, melalui oksigen masker, maka akan timbul panas pada generator kurang lebih 350 derajat Fahrenheit. Demi keamanan penumpang oksigen generator berada pada tempat yang aman.
Dari satu oksigen generator dapat mensuplai dua sampai tiga penumpang, karena itu masker oksigen selalu tersedia melebihi jumlah penumpang (kursi) yang ada di pesawat.
Untuk diketahui, terdapat perbedaan penting antara sistem oksigen tabung dengan gsistem oksigen generator yang fungsi utamanya adalah untuk memperkaya kandungan oksigen udara di kabin. Artinya, udara yang dibutuhkan untuk pernafasan harus tetap didapatkan dari kabin pesawat melalui sistem katup yang ada pada setiap masker oksigen.
Penumpang dapatbernafas seperti biasa, dengan cara ini udara dari kabin akan diperkaya oksigennya dari yang dihasilkan generator tersebut. Penggunaan masker oksigen hanya diperlukan selama pesawat menuju ketinggian yang aman, dan setelah itu masker oksigen tidak diperlukan sampai pesawat mendarat.
Keberadaan masker oksigen dan tata cara penggunaannya selalu diingatkan para awak kabin ketika peragaan di saat pesawat sebelum tinggal landas, agar setiap penumpang mengetahuinya.
Awak kabin tidak pernah lupa mengatakan, “Bila tekanan udara di kabin berkurang secara tiba-tiba, masker oksigen akan ke luar dari tempatnya. Segera matikan api rokok, tarik masker ke arah Anda, pasang menutupi mulut dan hidung, kaitkan karetnya di kepala, dan bernafaslah seperti biasa. Penumpang yang membawa anak-anak harus memakai masker terlebih dahulu, baru menolong anaknya.”
Mekanisme Kerja Pintu Pesawat

Untuk menjamin keselamatan penumpang dalam pesawat, maka pintu pesawat telah dirancang khusus, sehingga untuk membuka pintu anda diharuskan menarik pintu kedalam terlebih dahulu, lalu ditarik keatas secara elektik “Slide Up Door” (Boeing 767). Ini berarti anda harus melawan selisih tekanan udara.
Kita tahu bahwa semakin tinggi kita terbang semakin rendah tekanan udara dan semakin tipis kandungan oksigennya dibanding dipermukaan bumi. Tanpa pemberian tekanan pada kabin pesawat yang terbang di ketinggian itu akan berakibat fatal bagi kru dan penumpang. Namun bukan hanya akibat lapisan udara tapi akibat kebocoran pada kabin juga dapat berpengaruh terhadap tekanan udara, walaupun hanya berlobang kecil tapi udara dari luar dapat masuk kedalam cabin. Oleh karena itu, agar kabin pesawat penumpang tersebut dapat memberikan tekanan dan kadar oksigen yang sama seperti halnya di permukaan bumi, maka dibuatlah kabin bertekanan sebagai sarana untuk menyediakan tekanan udara dan kadar oksigen yang kaya seperti halnya di permukaan bumi (di ketinggian 0 hingga 8000 kaki), dimana manusia dapat hidup normal tanpa bantuan oksigen, lebih dari ketinggian tersebut maka manusia bisa mengalami hypoxia dan gangguan dalam lainnya. Karena udara (O2) tipis maka otak pun kekurangan supply darah mengakibatkan tidak bisa berpikir cepat bahkan bisa pingsan.
Pemberian tekanan ini dilakukan dengan cara memberikan tekanan di kabin menggunakan udara yang dihasilkan oleh kompresor di mesin pesawat terbang dengan cara mengatur besarnya tekanan melalui sistem buka-tutup katup yang berada di badan pesawat terbang. Kualitas udara yang dihasilkan di dalam kabin tentu tidak sama segarnya dengan udara pegunungan, namun sudah cukup segar dan bersih karena udara yang dihasilkan adalah kombinasi udara dari luar melalui proses pendauran-ulang (recycle) udara kabin pesawat yang selanjutnya disaring oleh filter anti-mikroba (microbe-trapping filters)
Untuk pesawat boeing 737-800NG,pesawat ini dilengkapi oleh pengaturan tekanan di dalam cabin agar penumpang merasa nyaman walaupun pesawat ini mampu terbang optimal sampai ketinggian 41.000 kaki diatas permukaan laut. Alat untuk mengontrol tekanan dalam cabin pesawat adalah Auto valve termasuk outflow and pressure relief valve.
Pada saat tekanan didalam sama dengan diluar (didarat) maka tidak masalah, seiring bertambahnya ketinggian maka auto valve ini menutup katup sehingga tekanan dalam cabin bisa terjaga atau dengan kata lain tekanan di dalam cabin pesawat lebih besar daripada tekanan diluar pesawat.
Karena itu struktur dari pesawat juga dibuat sedikit lentur tidak getas,ini dimaksud agar apabila tekanan dalam pesawat lebih besar daripada tekanan diluar,struktur pesawat bisa merenggang sedikit untuk menahan tekanan dalam cabin tidak bocor. Didalam cockpit,pilot harus terus memonitoring tekanan dalam cabin agar tidak lebih dari 10,000 feet, agar tekanan didalam cabin pesawat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar